🐒 Hampir Seluruh Pementasan Teater Mandiri Adalah Karya Pimpinannya Sendiri Yaitu

Menandaiulang tahun ke-44, Teater Mandiri menyelenggarakan pementasan dengan judul "KOK" naskah terbaru Putu Wijaya yang juga menjadi per Pementasan "KOK" sampai Peluncuran Buku Teror Mental; Perayaan 44 Tahun Teater Mandiri - Kompasiana.com Ensiklopediaislam nusantara. merupakan susastra yang ditulis pada pencipta seni memandang seni Rampak Bedug. masa pemerintah-an Majapahit. Jika benar sebagai sebuah karya seni yang patut dihargai. demikian, berarti bedug telah ada sejak masa (Muna Zakiah, 2014) Majapahit (XIV-XVI Masehi) (Mudzakkir, 2008). Fungsi Rampak bedug: Alquranadalah kitab yang harus dijadikan pedoman oleh seluruh umat Islam; Alquran adalah sebuah kitab suci yang agung, ia sepenuhnya menyejarah; Alquran adalah sumber pertama dari syariat Islam; Alquran adalah wahyu Allah yang merupakan huda dan rahmat bagi manusia; Alquran mengajarkan kita agar mempunyai sikap istikamah Bahasailmiah bukan sesuatu yang mudah. Ia tak sama dengan bahasa novel yang selalu memainkan perasaan seseorang. Ia bukan cerpen, syair, puisi dan pantun. Ia adalah kedalaman makna dan kejelasan artikulasi. Di zaman internet—yang dengan sembrono meloloskan beberapa postingan sampah—, bahasa ilmiah menemukan problemnya sendiri. Pemikiranyang lain bahwa pada era tersebut hampir di seluruh daerah banyak tercipta tarian puteri bersolek yang mengambil cerita dari legenda nusantara seperti, puti bungsu, puteri tujuh, jaka tarub dan lainnya. Beberapa karya Ahun adalah, tari selampit delapan tulang belut, tari kasih remaja, tari rabana, tari serai serumpun, tari kendi, tari MantanRedaktur dan Pemimpin Redaksi Majalah Annida (1991-2001) ini, tahun 1990 mendirikan Teater Bening—sebuah teater kampus di FSUI yang seluruh anggotanya adalah perempuan, menulis naskah dan menyutradarai pementasan teater tersebut di Gedung Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Auditorium Fakultas Sastra UI serta keliling Jawa dan LetkolHaji Muhammad Yunus Anis, seorang putra Kauman Yogyakarta kelahiran 3 Mei 1903. Beliau adalah putra dari Haji Muhammad Anis dan Ibu Siti Saudah binti H. Syu'aib. Muhammad Anis adalah seorang Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta yang sejak kecil mendapat pendidikan agama dari ayahnya sendiri dan dari datuknya. Sumberutama lakon adalah Ramayana karya Walmiki dan epos Mahabharata karya Vyasa. Hampir seluruh karakter manusia, plus detilnya, tersirat di dalam lakon-lakon empat babon atau narasumber itu. Itulah sesungguhnya yang hendak disampaikan Teater Koma dalam pementasan "Republik Togog" di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), mulai 28 Juli Pementasanteater dengan lakon "Hah" oleh Teater Mandiri di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Sabtu, 14 Desember 2013. Lakon Hah karya Putu Wijaya tersebut menceritakan potret kekinian kehidupan masyarakat miskin yang terhimpit beban ekonomi dan rendahnya pendidikan. [TEMPO/Dian Triyuli Handoko; DH2013121626] Keywords . Indonesia memiliki warisan budaya dalam bidang legenda dan cerita rakyat. Melalui cerita atau legenda orang tua mengajarkan kepada anak-anaknya tentang pendidikan karakter bagaimana hidup bersama dengan orang lain. Cerita atau legenda tumbuh bersama dengan media pengantar cerita melalui kesenian tradisional seperti ketoprak, ludruk, mamanda, makyong, wayang golek, wayang kulit, wayang sasak, longser, tarling, dan seni pertunjukan lain. Cerita atau legenda, ada yang dituturkan secara lisan namun ada juga yang tertulis dalam bentuk sastra atau tembang. Cerita atau legenda sering menjadi tema pada pertunjukan teater baik tradisional maupun modern dengan adaptasi sesuai dengan kebutuhan zaman. Pelestarian dan pengembangan warisan budaya dalam bentuk cerita atau legenda tetap harus dilestarikan sebagai salah satu kekayaan budaya. Cerita dan legenda dapat juga dijadikan sebagai media atau wahana untuk menyampaikan pesan moral kepada generasi muda. Warisan budaya dalam bentuk cerita atau legenda dapat juga dijadikan salah satu pilar ekonomi kreatif sehingga mendatangkan kemakmuran bagi masyarakat pendukungnya Pementasan teater merupakan puncak dari semua kegiatan persiapan pertunjukan. Keberhasilan pementasan ditentukan oleh kesiapan segala hal yang diperlukan. Kerjasama dan gotong royong merupakan salah satu kunci keberhasilan pementasan teater selain kekuatan pemain dalam memerankan tokoh dan karakternya. Pelaksanaan pementasan teater dapat terlaksana dengan baik atau tidak tergantung dari kerjasama tim. Kemampuan dalam manajemen pertunjukan merupakan salah satu kunci keberhasilan. Manajemen pertunjukan dapat berhasil jika semua anggota tim saling bahu membahu bekerja sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Kemampuan dalam tata rias, tata busana, tata lampu, dan tata panggung, merupakan keterampilan yang harus dikuasai dalam pementasan teater. Aspek-aspek tersebut merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi. Saat terbaik dalam semua rangkaian proses seni teater adalah pementasan. Semua mata tertuju pada panggung yang telah kita persiapkan sedemikian rupa disesuaikan dengan tuntutan pementasan. Banyak orang yang bekerja dalam pementasan. Yang paling penting adalah saatnya kita menampilkan hasil proses latihan akting kita dengan sebaik-baiknya. Biasanya sehari sebelum pementasan diadakan gladi bersih pementasan. Gladi bersih adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan pada waktu latihan terakhir, dari acara pertama sampai acara penutup. Biasanya gladi bersih dilakukan di depan penonton agar para pemain terbiasa menghadapi banyak orang. Tujuan gladi bersih adalah untuk membuat apakah persiapan itu benar-benar sudah sempurna atau belum. Biasanya untuk pelaksanaannya dimana tempat pergelaran dilaksanakan dengan tujuan untuk mengenal panggung atau medan bagi pemain yang akan menyuguhkan hasil karyanya. Menjelang pementasan semua pemain harus sudah siap satu jam sebelum acara dimulai sehingga mereka tidak tergesa-gesa dalam melaksanakan pementasan. Penataan panggung harus sudah dalam kondisi siap pakai. Beberapa hal yang harus diperhatikan saat mementaskan karya teater adalah seluruh kepanitiaan yang terlibat harus konsentrasi penuh, jangan sampai terjadi kesalahan dari apa yang direncanakan. Hadapi semuanya dengan ketenangan. Juga menjaga kekompakkan dalam bekerjasama sehingga pementasan akan berhasil dengan baik. 1. Melaksanakan Pementasan Seni teater bukan hanya saja melibatkan banyak seniman, melaikan juga mengandung banyak unsur. Unsur-unsur itu saling mendukung dan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keutuhan pementasan drama. Karena itu, semua unsur pementasan drama harus ada dan harus digarap dengan baik. Jika salah satu unsur tidak ada bisa, mengakibatkan pementasan drama tidak akan pernah terwujud. Pada saat pelaksanaan ada beberapa hal yang penting dilakukan berkaitan dengan pementasan teater, sebagai beikut. a. Tata Rias Tata rias memiliki peran penting dalam pementasa teater. Tata rias dapat mengubah dan menguatkan karakter tokoh. Wajah muda dapat diubah menjadi tua. Tata rias juga dapat mengubah kulit seolah-olah terluka atau bahkan anggota tubuh seolah-olah ada yang patah. Orang yang mengerjakan tata rias disebut penata rias. Penata rias harus mampu mengatur waktu sehingga setiap pemain yang akan naik panggung sudah dirias dengan baik. b. Tata Busana Tata busana juga memiliki peran penting di dalam penampilan seorang tokoh. Tata busana dapat menunjukkan karakter tokoh yang diperankan. Peran pengemis, tata busana yang dipakai akan berbeda dengan peran raja. Tata busana juga berfungsi untuk menguatkan karakter tokoh di dalam pementasan teater. Tata rias dan tata busana merupakan satu kesatuan tak terpisahkan. c. Tata Suara Tata suara pada pementasan teater memiliki arti penting karena penyampaian pesan dilakukan dengan cara berdialog. Tata suara tidak hanya mencakup sound system saja tetapi juga tata suara pemain itu sendiri. Peralatan tata suara dirancang dengan baik sehingga dialog dapat terdengar jelas. Tata suara juga mencakup aspek musik pengiring sebagai ilustrasi suasana. Perlu penempatan secara matang musik pengiring dengan menggunakan kaset atau iringan langsung. Musik pengiring merupakan kesatuan dalam pementasan teater. d. Tata Panggung Ada beberapa jenis tata panggung. Ada yang berbentuk lingkaran dan tapal kuda. Tata panggung di luar atau di dalam gedung juga memiliki kakteristik tersendiri. Jika tata panggung di luar outdoor diperlukan tata suara memadai karena adanya gangguan dari sekeliling. Penataan suara tentu akan berbeda dengan tata panggung di dalam gedung indoor. Tata panggung juga berhubungan dengan setting atau latar cerita yang dipentaskan. Manajemen panggung perlu memperhitungkan secara cermat jeda untuk mengganti latar panggung sehingga pementasan akan berjalan mengalir. e. Tata Lampu Tata lampu pada pementasan teater mempunyai arti penting. Tata lampu berfungsi untuk membangun suasana. Jika pementasan teater dilaksanakan siang hari dan di ruang terbuka maka tidak diperlukan tata lampu. Tata lampu tidak hanya mencakup lampu-lampu panggung saja tetapi juga lampu yang merupakan bagian dari setting panggung seperti penggunaan lampu teplok atau petromak untuk menunjukkan suasana rumah pedesaan zaman dulu. 2. Evaluasi Pelaksanaan Pementasan Evaluasi sangat penting dilakukan supaya mengetahui kekurangan dan kelebihan pementasan yang sudah dilaksanakan. Dengan mengetahui akan kekurangan dan kelebihan inilah yang kemudian harus ditindaklanjuti. Hal-hal yang sudah baik perlu dilanjutkan dan ditingkatkan tingkatkan, dan hal-hal yang masih kurang harus diperbaiki. Pada saat evaluasi diperlukan kebesaran hati untuk menerima kritik dan masukan semua yang telah dikerjakan. Tanggapi semua saran dan masukan untuk sesuatu yang lebih baik lagi. Tujuan evaluasi antara lain Mengetahui kekurangan dan kelebihan pelaksanaan pementasan. Umpan balik untuk perbaikan pada tahun berikutnya. Saling menghargai kerja tim. Hasil akhir merupakan hasil kerja tim bukan perorangan. ï»żTeater Mandiri merupakan kelompok seni teater yang didirikan oleh Putu Wijaya di Jakarta pada 1971.[1] Menurut Putu, kata mandiri dipopulerkan oleh Prof. Djojodigoena dalam kuliah sosiologi di Pagelaran, Yogyakarta, pada era 1960-an. Mandiri berasal dari bahasa Jawa yang merujuk pada kemampuan manusia untuk tidak hanya berdiri sendiri, tetapi juga mau bekerja sama dengan orang lain.[2] Teater Mandiri menjadikan semangat mandiri ini menjadi pijakan utama yang kemudian dirangkum menjadi filosofi, bertolak dari yang ada’. Filosofi ini berarti segala upaya menerima apa yang ada dan menggunakannya dengan optimal untuk tujuan bersama.[1][2] Pada awal berdirinya, anggota Teater Mandiri berasal dari karyawan Majalah Tempo. Beberapa seniman yang kerap berada di Taman Ismail Marzuki selanjutnya ikut bergabung. Pada perjalanannya, keanggotaan kelompok teater ini berkembang. Mereka datang dari beragam lapisan dan kelompok masyarakat seperti anak jalanan, tukang sapu, hingga mereka yang memiliki kebutuhan khusus seperti tuna aksara.[1] Teater Mandiri disebut sebagai teater post-modern oleh beberapa pihak karena dikenal dengan konsep teror’ pertunjukannya terhadap penonton.[3] Bagi Putu, teater memiliki peran untuk memberikan teguran dan tekanan dan kemudian menyerang kesadaran penonton. Tujuannya adalah untuk membuat penonton secara tidak langsung terlibat pada kenyataan. Tokoh-tokoh dalam teater ini seringkali tampil dengan tanpa karakter, dan hanya mewakili pribadi-pribadi yang anonim. Pendapat lainnya menyatakan bahwa dalam Teater Mandiri, logika acapkali terbalik sementara percakapan terus meluncur. Penampilan Teater Mandiri membetot penontonya dengan makna dan logika yang berkebalik-balikan.[3] Teater Mandiri fokus pada pertunjukan yang mampu memberikan pengalaman batin yang menimbulkan kesadaran baru bagi penontonnya. Sebagian besar naskah pertunjukan teater ini ditulis dan disutradarai oleh Putu Wijaya. Hampir semua judulnya terdiri atas satu suku kata dan berjenis kata seru. Beberapa di antaranya adalah Aduh, Dag Dig Dug, Anu, Edan, Aum, Gerr, Aib, dll. Selain naskah karya Putu, Teater Mandiri pernah mementaskan “The Coffin is Too Big for The Hole” karya Kuo Pao Kun Singapura untuk Festival Asia di Tokyo pada 2000. Selanjutnya, teater ini juga mementaskan naskah bertajuk “Kereta Kencana” karya seniman W. S. Rendra pada 2009.[1] Teater ini melakukan pementasan perdananya pada 1974 yang digelar di Taman Ismail Marzuki. Pada pementasan perdana tersebut, Putu membawakan naskah “Aduh”. Dalam perjalanannya, Teater Mandiri pernah meraih Hibah Seni Kelola 2004 dalam kategori Pentas Keliling bertajuk “Zoom” di Yogyakarta, Semarang, Surabaya dan Bali.[1][2] Saat ini, teater ini menjadi salah satu kelompok teater tertua di Indonesia. Kelompok ini masih produktif berkarya dan berpentas hingga di dalam negeri maupun di luar negeri. Pada 2008, Teater Mandiri menggelar pertunjukan di Ceko dan Slowakia atas undangan Duta Besar RI untuk Ceko waktu itu, Dr. Salim Said. Rombongan Teater Mandiri dipimpin oleh Egy Massadiah. Tampilnya Teater Mandiri di kedua negara itu merupakan salah satu agenda kegiatan peringatan 50 Tahun Perjanjian Kebudayaan Indonesia-Ceko.[4] Saat merayakan hari jadi ke-44-nya pada tahun 2015, Teater Mandiri meluncurkan buku berjudul “Teror Mental” yang ditulis Putu Wijaya. Buku ini kemudian tidak diperjualbelikan, tapi disumbangkan ke teater-teater dan berbagai perpustakaan sekolah di Tanah Air.[1] Rujukan ^ a b c d e f "Teater Mandiri - Kelola". Diakses tanggal 2021-10-07. ^ a b c Editor 2016-08-16. "Teater Mandiri, Terus Berkreasi dengan Bertolak dari yang Ada". 1001 Indonesia dalam bahasa Inggris. Diakses tanggal 2021-10-07. ^ a b "Mandiri, Teater". Diakses tanggal 2021-10-07. ^ 2008-05-29. Suryanto, ed. "Teater Mandiri akan Pentas di Ceko dan Slowakia". ANTARA News. Diakses tanggal 2021-10-07. Artikel ini tidak memiliki kategori atau memiliki terlalu sedikit kategori. Bantulah dengan menambahi kategori yang sesuai. Lihat artikel yang sejenis untuk menentukan apa kategori yang bantu Wikipedia untuk menambahkan kategori. Tag ini diberikan pada Desember 2022. Teater Mandiri didirikan di Jakarta pada 1971. Kata mandiri berasal dari bahasa Jawa, yang dipopulerkan oleh Professor Djojodigoena dalam kuliah sosiologi di Pagelaran, Yogyakarta, pada tahun 60-an. Artinya orang yang sanggup berdiri sendiri, namun juga bisa bekerjasama dengan orang lain. Kata itu nampak sangat dibutuhkan dalam pembangunan kepribadian/jatidiri bangsa,di era lepas dari penjajahan phisik namun masih digondel banyak hambatan secara mentalitas.. Mula-mula Teater Mandiri membuat pertunjukan untuk televisi Orang-Orang Mandiri, Apa Boleh Buat, Tidak, Kasak-Kusuk, Aduh. Aduh dan Kasak-Kusuk walaupun sudah direkam tetapi tidak disiarkan karena situasi politik saat itu. Selanjutnya dengan lakon ADUH, pada 1974 Teater Mandiri mulai main di TIM. Sejak itu Teater Mandiri setiap tahun muncul di TIM dan Gedung Kesenian Jakarta GKJ. Naskah yang pernah dipentaskan Anu, Lho, Entah, Nol, Blong, Hum-Pim-Pah, Awas, Dor, Edan, Aum, Gerr, Los, Tai, Aib, Yel, Bor, Ngeh, Wah, War, Luka, Dar-Der-Dor, Zoom, Jangan Menangis Indonesia, Zetan, Zero, Cipoa dll. Semua naskah itu ditulis dan disutradarai oleh Putu Wijaya. Hanya satu kali teater Mandiri mmentaskan naskah lain, yakni The Coffin Is Too Big for The Hole karya Kuo Pao Kun Singapura untuk Festival Asia di Tokyo pada tahun 2000. Alasan Putu hanya memainkan naskahnya sendiri, adalah karena dia tidak hanya ingin menyutradarai pertunjukan tetapi juga menghasilkan naskah – sesuatu yang memang sedang diupayakan dalam kehidupan teater modern di Indonesia. Naskah-naskah Teater Mandiri memang memiliki sesuatu yang khusus. Judulnya hanya satu kata. Karena dalam kata-kata seruan yang umumnya terdiri dari satu suku kata seperti wah, lho, dor dan sebagainya, tersimpan banyak rasa dan pengertian. Ambuitas kata-kata itu menimbulkan kelucuan, keanehann tetapi juga kedalaman bagi yang suka berpikir. Tokoh-tokohnya rata-rata tidak bernama, bahkan tidak jelas latar belakangnya, sehingga hanya mirip seperti ide sana. Ini untuk mengantisipasi kemajemukan di In donesia yang meliputi banyak hal. Perbedaan bahasa, idiologi, agama, standar sosial, pendidikan dan sebagainya. Dengan membuat karakter seperti tokoh dongeng, lakon jadi netral, bisa diadaptasikan ke mana saja. Memang resikonya, lakon jadi tidak eksklusif. Pertunjukannya Teater Mandiri cenderung menjadi seperti esei visual. Nyaris teater seni rupa. Jenis pertunjukan ini pernah sangat sukses waktu pertunjukan LHO di Teater Arena TIM. Tetapi dua pertunjukan visual yang tanpa naskah berikutnya ENTAH dan NOL tidaki diminati penonton, sehingga Teater Mandiri kembali kepada kata. Namun sejak 1991, karena menjadi utusan Indonesia di dalam KIAS , bermain di 4 kota Amerika yang tidak paham bahasa Indonesia dan Mandiri sendiri tak mampu memainkan lakon dalam bahasa Inggris, Teater Mandiri dengan pertunjukan Yel kembali pada elemen visual, sampai sekarang. Biasanya, karena memang struktur naskahnya, sekali masuk pentas, pemain Teater Mandiri hampir tidak keluar lagi. Ini terjadi sejarahnya untuk menghindarkan pemain yang kebanyakan bukan aktor kehilangan konsentrasi dan ngeloyor main-main kie tempat lain. Jadi pertunjukan Teater Mandiri memang seperti sebuah peperangan. Cepat, keras dan padat. Paling banter sekitar 90 menit. Sebagai kelompok, Teater Mandiri bukan sebuah organisasi tetapi adalah peguyuban. Tempat berlatih, bertemu dan mengembangkan diri. Bergabung dengan Teater Mandiri tak hanya untuk menjadi pemain teater, tetapi juga mengembangkan jati diri untuk memperoleh kemandirian. Egy Massadiah, salah seorang anggota Teater Mandiri kini sudah menjadi pengusaha muda yang sukses. Ia mengaku di dalam mengatur taktik dan strategi di dalam binis, ia mempraktekkan motto dan kiat kerja yang diopelajarinya waktu masih aktig di Teater mandiri. Teater Mandiri memiliki 2 acuan dalam bekerja. Pertama “Bertolak Dari Yang Ada”. Maknanya adalah untuk mengajak anggotanya belajar untuk menerima, menghayati apa yang ada dan kemudian memanfaatkannya, mengotimalkannya untuk mencapai yang dikehendaki. Dengan dasar ini tak ada yang tak dapat menghentikan proses. Semua kelemahan diberdayakan menjadi kekuatan. Proses menjadi sangat penting, lebih penting dari hasil. Para pendukung diajak belajar bekerja gotong-royong sebagai sebuah tim yang kompak. Sebagaimana juga kehidupan, produk tidak pernah selesai, selalu berkembang dan tumbuh. Kedua “Teror Mental”. Teror mental adalah kegoncangan pada jiwa yang membangkitkan seseorang berpikir kembali, sehingga waspada. Bagi Teater Mandiri, tontonan tidak semata-mata bertujuan untuk menghibur. Bahwa tontonan memiliki fungsi menghibur memang dimanfaatkan. Tetapi yang hendak dikejar adalah mengguncang batin, sehingga tercipta pengalaman spiritual. Diharapkan baik dalam diri penonton, maupun para pendukung akan bangkit kesadaran baru. Teater yang memiliki berbagai aspek, dikembangkan secara maksimal untuk membentuk jatidiri. Anggota Teater Mandiri dari berbagai kalangan. Mahasiswa/pelajar, pegawai negeri/karyawan, wiraswata, pengangguran, dosen/guru, bintang film/sinetron, tukang sapu, tukang parkir bahkan juga bekas narapidan, pemulung serta orang yang cacad tubuh.. Hanya sedikit aktor/pemain yang benar-benar pemain mau bergabung, sehingga Teater Mandiri pernah dijuluki people theater oleh seorang sutradara dari Taiwan. Di dalam Teater Mandiri keaktoran yang memerlukan “peran” kadangkala mengganggu, karena, naskah bisa dirombak dan dipreteli serta dialog dibagi-bagi seperti membagi tugas sesuai dengan desa-kala-patra. Desa-kala-patra tempat-waktu-suasana adalah konsep kerja dalam kerifan lokal di Bali memang mendasari proses bekerja di Mandiri. Denga cara kerja Bertolak Dari Yang Ada, tak ada yang bisa menghalangi apa yang ingin dikerjakan, asalkan mengadaptasi desa-kala-patra secara kreatif. Bahkan konsep pun bila perlu akan kami langgar dan tolak sendiri, kalau memang sudah tidak sesuai/terbukti tidak benar lagi dari sudut desa-kala-patra. Apakah itu berarti tidak punya pendirian? Entahlah, kami hanya ingin tumbuh, berkembang dan hidup yang wajar, tidak terkekang oleh dogma-dogma yang salah atau kedaluwarsa. Pada awalnya Teater Mandiri juga seperti teater-teater yang lain, menitikberatkan persembahan pada kata. Cerita dan tokoh-tokoh sangat penting. Konflik pun menjadi utama. Hanya saja bedanya, cerita di dalam Teater Mandiri yang khusus dibuat, adalah semacam karikatur atau dongeng. Penonton tidak diminta percaya pada apa yang terjadi di panggung empati. Bahkan penonton diyakinkan bahwa apa yang terjadi di panggung adalah kepura-puraan yang diulebih-lebihkan. Yang dipentingkan adalah suasana. Orang banyak atau massa menjadi tokoh berhadapan dengan individu. Sementara individu sendiri adalah juga bagian dari kelompok. Bagi Teater Mandiri yang penting bukan apa yang terjadi di panggung, tetapi apa yang kemudian terjadi di dalam sanubari penonton. Tontonan – itu istilah Teater Mandiri untuk menamakan penampilannya, adalah semacam anggur/tuak/berem. Akibat-akibat dari apa yang diminum itulah yang lebih penting. Teater mandiri percaya bahwa tontonan adalah sebuah spiritual yang memberikan pengalaman spiritual, baik pada penonton maupun pemain sendiri. Dialog-dialog Teater Mandiri, blak-blakan, keras, kasar, tetapi selalu lucu. Menghindar dari mencerca/mengejek orang lain, sehingga kritikan-kritikan sosialnya kadangkala tidak jelas. Lebih mengarah pada dan menjadikan dirinya sendiri sebagai bulan-bulanan, sebagai provokasi untuk mengajak semua orang untuk mawas diri. Mungkin itu sebabnya, Teater Mandiri sampai sekarang tidak pernah berhubungan dengan “yang berwajib” Pada tahun 1975 dalam pertunjukan LHO, tontonan diakhiri dengan mengundang penonton keluar. Lalu para pemain yang telanjang bulat di dalam gerobak sampah, dibuang ke kolam seperti limbah. Sementara di kolam beberapa orang kampung jongkok berak, membicarakan masalah-masalah politik. Untuk itu Gubernur Ali Sadikin marah. Putu pun dipanggik ke Komdak untuk ditanyai. Ketika ditanya oleh wartawan apa reaksi Putu, Putu hanya menjawab, bahwa seandainya dia Gubernur dia juga akan melakukan persis seperti yang dilakukan oleh Ali Sadikin. Belakangan memang ketahuan bahwa Ali Sadikin sengaja mendahului marah untuk melindungi TIM,. Sudah lama TIM mau dijamah dan diawasi aparat, karena itulah satu-satunya tempat bebas yang tidak kena sensor saat itu. Teater Mandiri sudah melakukan pertunjukan di Amerika Wesleyan, CalArt, New York, Seatle, Jepang Tokyo, Kyoto, Hong-Kong, Singapura, Taipeh, Hamburg, Cairo. Dan pada bulan Juni 2008 akan ke Praha dan Bratislava. Kolaborasi dan workshop selalu diupayakan di tempat kunjungan, sehingga teater menjadi peristiwa tukar pengalaman yang menumbuhkan pengertian. Jadi dalam pertunjukan juga terjadi proses pembelajaran buat para anggota Teater Mandiri sendiri. Putu Wijaya sendiri sudah pernah menyitradarai pertunjukan di Amerika dan main di LaMaMa New York. Pada tahun 2004 Putu menyutradarai di Beograd. Bulan Juni 2007 diminta LaMaMa untuk menjadi instruktur para sutradara dalam lokakarya di Umbria, Itali. Dari pengalaman perjalanan itu, jelas sekali teater modern Indonesia memiiliki peluang untuk hadir di percaturan teater dunia.. Apa yang dipraktekkan oleh Teater Mandiri — yang sangat memuliakan kearifan lokal Indonesia – adalah salah satu langkah kecil untuk membuat sejarah teater dunia memperhitungkan bukan hanya teater tradisi Indonesia tetapi juga teater modern Indonesia yang merupakan kelanjutan dari teater tradisinya. Sejak tahun 90-an, Teater mandiri memang lebih banyak main di mancanegara, meskipun tetap berusaha minimal sekali setahun di Tanah Air. Anggota Teater Mandiri yang masih aktip sekarang antara lain Yanto Kribo, Alung Seroja, Ucok Hutagaol, Arswendy Nasution, Fien Hermini, Aguy Sabarwati, Diyas Istana, Bambang Ismantoro, Sukardi Djufri, Agung Anom Wibisana, Kleng Edy Sanjaya, Umbu LP Tanggela, Chandra, Rino, Dr Soegianto, Corin Danuasmara, Cobina Gillitt, Dewi Pramunawati, Putu Wijaya. Para artis yang pernah main di Mandiri Warkop, Dewi Yull, Dewi Irawan, Rachael Mariam, Butet Kertaredjasa dan Rieke Dyah Pitaloka Memang anggota Mandiri itu-itu juga. Yanto Kribo, misalnya sudah ikut Mandiri sejak 1974. Dalam pertunjukan War di Taipeh, seorang Professor bertanya, mengapa Mandiri tidak melakukan kaderisasi dan mempergunakan pemain-pemain muda. Putu menjawab “Pertanyaan Anda seperti mau mengatakan bahwa umur adalah ukuran kekuatan. Orang-orang yang berumur ini jauh lebih kuat sekarang dibandingkan dengan ketika mereka pertama kali ikut saya. Kribo sekarang jauh lebih tangguh dari Kribo 30 tahun lalu! Di samping itu saya memang tidak memaksakan kaderisasi, karena itu tidak tak ada gunanya. Ini orang-orang datang sendiri pada saya dan pergi sendiri kalau mereka tidak butuh. Memang tidak banyak yang tertarik pada teater seperti Teater Mandiri. Kalau nanti benar-benar tidak ada lagi, ya apa boleh buat, saya akan main sendiri.” Sejak pementasan ZAT pada tahun 1982, Teater Mandiri selalu didampingi Harry Roesly dan DKSB untuk musik. Harry Roesly sangat cocok dengan Putu. Seringkali tidak diperlukan latihan, langusng saja main. Kadang-kadang Harry menganggap gambar-gambar di pentas sebagai partitur dan sebaliknya sering Putu menganggap musik Harry Roesly sebagai naskah. Duo ini berkelanjutan sampai pertunujukan WAR 2004, karena kemdian Harry Roesly mendahului. Sampai sekarang Teater Mandiri belum mendapatkan gantinya. Satu lagi pendukung setia Teater Mandiri adalah Rudjito. Penata artistik ini selalu berproses selama pertunjukan, sehingga “set” baru rampung sesudah pertunjukan berakhir. Pernah dalam pertunjukan DOR di Teater Arena, 2 hari sebelum pertunjukan, Rujito minta supaya set dibalik. Di dalam hati Putu marah sekali. Sebagai pemain utama yang memainkan peran Hakim, Putu jadi terpaksa membelakangi penonton terus-menerus. Tetapi karena merasa tertantang, Putu menyambut tantangan itu. Nyatanya memang lebih bagus. Tantangan bagi Teater Mandiri memang buka halangan, tetapi kesempatan. Kendala bukannya menghambat, tetapi justru memberikan inspirasi untuk meloncat lebih tinggi sehingga menghasilkan surprise. Karena itu dalam masa penih kekangan di masa lalu, teater Mandiri tidak pernah merasa kebebasannya dipasung. Di mana ada halangan atau penindasan di situ ada pelung untuk berkelit. Teater Mandiri percaya, di setiap kegagalan selalu bersembumnyi janji asal berani dan mau meraihnya. Pada 10 Juni Teater Mandiri akan berangkat ke Praha memainkan ZERO. Kemudian akan dilanjutkan dengan pertunjukan di Bratislava. Sebelum itu untuk uji coba, Teater Mandiri akan main di STSI Bandung pada 1 Juni dan GKJ pada 7 Juni.

hampir seluruh pementasan teater mandiri adalah karya pimpinannya sendiri yaitu